Hey Des!!

Powered by Blogger.
Pict taken by me, November 2013

"Ayuk, itu apo?" tanya polos seorang gadis kecil saat melihat kamera DSLR yang ku bawa. 

Sekejap aku menjelma menjadi sosok soktau yang memberi penjelasan singkat soal kamera dan foto pada seorang gadis kecil. Entah bagaimana, tiba-tiba ia datang menghampiri disaat aku sedang asik mengambil gambar beberapa orang teman yang sedang melakukan aksi. Yaa, pagi itu aku memang sedang berperan menjadi fotografer dalam salah satu agenda kegiatan organisasi ke-pangan-an yang aku ikuti di kampus.

Gadis kecil ini terlihat sederhana diantara anak-anak yang berlarian menonton aksi kami. Tubuhnya diselimuti oleh baju dan celana kebesaran, aksesoris kuning melengkapi diri sebagai penghias rambut di kepalanya. Kaki mungil tanpa alas berjalan mengikuti kemana Ibu melangkah. 

Kepalanya mungkin haus rasa keingintahuan akan sebuah benda yang bisa memenjarakan waktu di dalamnya. Hingga akhirnya Ia memberanikan diri untuk mendekat, sedang Ibu dan adiknya sibuk mencari barang-barang di pinggir jalan yang tak dihiraukan kebanyakan orang tapi bernilai jual untuk kemudian ditukar dengan makanan.

"Yuk, aku galak jugo difoto"

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ia adalah salah satu robot kucing yang diciptakan di masa depan.
Tidak memiliki kuping layaknya seekor kucing, sebabnya ia sering dikira sebagai robot musang.
Bulat, lucu, menggemaskan dan biru, meski itu bukanlah warna asli tubuhnya.
Dorayaki adalah kesukaannya, sedang Dorami adalah adik perempuannya.
Memiliki trauma berat terhadap seekor tikus.

Doraemon. Yaa, satu sosok yang langsung terpikir saat ternyata surat hari ini musti ditujukan untuk karakter atau tokoh animasi favorit. Pun bukan salah satu fans fanatic, tapi tokoh satu ini menghidupi perjalanan hidup dengan penuh imajinasi.

Baling-baling bambu, mesin waktu, pintu ajaib, ah siapa yang tak kenal peralatan ajaib yang keluar dari kantong sang robot kucing dari masa depan satu ini. Di puluhan tahun perjalanan kisahnya, Nobita masih saja terus mengiba dan tentu saja masih duduk di bangku kelas V SD. 

Siapa yang  tak mengenal soundtrack dan iringan musik di setiap serial film ini.

Aku ingin begini, aku ingin begitu
Ingin ini ingin itu banyak sekali
Semua-semua semua dapat di kabulkan
Dapat dikabulkan dengan kantong ajaib
La la la.. Aku sayang sekali Doraemooon...
La la la.. Aku sayang sekali Doraemooon...

Tak ada lagi yang ingin ku sampaikan selain ungkapan terimakasih untuk sesorang luar biasa yang telah melahirkan tokoh imajinasi favorite pada tiap anak di seluruh dunia. Bapak Fujiko F Fujio.

-Day 11
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Jemari kembali menari mengikuti jejak langkah seorang yang sedang berlari di kepala. Terlalu mudah memang untuk menebak itu siapa. Semoga bosan tidak ikut datang bersamaan dengan surat ini sampai. Surat ke-sekian yang ku tuju padamu. 

Selamat sore, 

Seperti biasa, aku dalam keadaan baik dan luar biasa tentunya, semoga kau juga demikian disana. Sayang, gudang tempat penyimpanan rinduku sepertinya sudah penuh. Terasa amat sesak di dalam. Kapan kiranya kamu kembali datang untuk kemudian membagi sebagian rindu ini bersama lagi? 

Percakapan dalam beberapa malam denganmu sungguh membuatku rindu akan kisah yang ku tahu bukan semu. Bahkan dalam riuhnya hujan dan petir di luar sana aku masih bisa membayangkan senyum dan sorot matamu saat memandangiku bercerita. Mata yang tak pernah gagal membuat aku jatuh ke dalamnya. 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Lisan ini terlalu kaku untuk sekedar menyatakan cinta kepada seorang saudara. Bukan tidak ingin, namun terkadang pertemuan membuat kita lupa arti sebuah ketiadaan. Izinkan aku menuliskan kata yang selalu terbata setiap kali ingin berbicara.

Keegoisanku mungkin masih terbilang cukup tinggi, bahkan untuk seorang sulung di rumah. Maaf untuk peduli yang kadang masih ku abaikan.
Ingatan kebersamaan masa kecil terlihat buram. Pertengkaran dan keributan khas anak-anak lebih banyak terbayang. Maaf untuk masa ketika aku enggan mengalah, hingga pada akhirnya aku tahu bahwa mengalah tak selalu kalah.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hai,
Aku tau kita tidak saling mengenal, tapi biarkan aku menulis surat cinta sebagai bentuk maafku yang mungkin tak pernah kau kira.
Jujur, aku tidak tau harus memulainya dari mana. Aku tak ingin merusak semuanya. 
Kau terlalu  berharga untuk dihancurkan oleh sebuah kotoran yang tak seharusnya ada.

Aku mengenalnya sudah cukup lama, tapi tentu tidak lebih lama darimu. Aku meminta maaf atas perkenalan lebih jauh yang membawa kita sampai pada perasaan yang kita tak pernah ingin aku atau dia rasa. Aku tak bisa menolak untuk tidak jatuh dan mencinta. Maaf untuk itu semua.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Instagram: @desimegaw

Labels

#30HariMenulisSuratCinta SajakSajakPatah CampusLife Story Of My Life Artikel Catatan Perjalanan CeritaPendek Blog Competition Tentang Rindu

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2018 (1)
    • ▼  December (1)
      • First Birthday Trip Ever
  • ►  2017 (2)
    • ►  December (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (4)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  February (6)
    • ►  January (3)
  • ►  2014 (27)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (10)
    • ►  January (3)
  • ►  2013 (19)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (4)
    • ►  February (5)
  • ►  2012 (24)
    • ►  December (2)
    • ►  November (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)

Follow me on:

  • Soundcloud
  • Twitter
  • Instagram

Created with by BeautyTemplates| Distributed By Gooyaabi Templates