Hey Des!!

Powered by Blogger.
Bukankah seharusnya ini menjadi tahun yang paling kau tunggu? tahun terakhirmu di kota yang kau bilang belum pantas disebut kota.

Ada apa?
wajahmu menyiratkan sejuta prasangka yang tak lebih baik dari seekor kucing jantan di tengah kota sedang mencari jalangnya.
Sebegitu beratnya kah isi kepala?

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
6 Agustus 2014, Jakarta
--------
Ini adalah hari ke-sekian setelah perayaan Idul Fitri 1435H, saya masih menghabiskan waktu liburan di rumah dengan tidak melakukan apa-apa. Malam itu, sebuah pesan datang dari salah seorang sahabat. Sebuah tawaran perjalanan yang menjadi titik balik saya kini untuk lebih mencintai diri saya sendiri dan Indonesia tentu saja.

Sagitarius dan perjalanan adalah dua kesatuan yang entah sejak kapan melekat pada diri saya. Malam itu saya begitu antusisas dengan panggilan alam yang disampaikan melalui teman saya ini. Meskipun terlihat agak berat, pada akhirnya ayah memeberikan izin untuk saya bertualang kali ini. Sebagai seorang pemula, saya banyak bertanya pada teman-teman yang sudah terlebih dahulu melakukan pendakian ke banyak gunung. Perlengkapan pribadi seperti sepatu tracking, backpack, sampai jaket yang menjadi syarat kelengkapan seorang pendaki kebanyakan saya dapatkan dengan meminjamnya ke teman.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku pernah menunggu,
tapi kau berlalu dan terus saja tak peduli seberapa lama aku sudah menyimpan ragu.
Lakuku hanya bisa termangu meratap kasih yang tak menentu.
Tuan, rindu ini penuh, kaku tersimpan dalam saku.

Aku pernah mencari,
mengiringi kaki yang berlari kesana kemari.
Tangisku tak ada lirih, mencoba membungkam segala rintih dan perih dalam hati.
Tuan, letih ini tak berarti meski ada belati yang siap menikam diri hingga tak bernyawa lagi.

Aku pernah menampikkan luka,
meronta tentang kita yang tak pernah mereka inginkan bahagia
Upayaku tak lebih dari seorang hamba yang memohon  kepada Tuhannya.
Tuan, segalanya sudah tak lagi ada, bahkan sekedar asa untuk dibentangkan dalam sebuah kita.


Jakarta, 2014
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kuliah Kerja Nyata, atau biasa disingkat KKN merupakan 4 satuan kredit yang wajib dijalani oleh mahasiswa tingkat tiga yang tengah menyelesaikan studi di jurusan Teknologi Pertanian Universitas Sriwijaya. KKN Tematik adalah tipe yang dipilih oleh jurusan gue ini di setiap tahunnya dan biasanya dilakukan di liburan akhir semester genap. Gitu.

Setelah ribut sana sini akhirnya dapet juga kepastian perihal lokasi dan kelompok KKN. Ada 4 wilayah yang diperkirakan bakal jadi lokasi KKN tahun ini, di antara ke-4 nya ada 1 tempat yang paling jauh dan paling di-ogah-in sama anak-anak yang lain, yaitu Cengal. Feeling gue udah ga enak sih dari awal dikasih tau di mana-mana aja tempatnya. Eh kan, bener aja, "....Desi, anu, anu, anu, dll.... di Cengal" ujar salah seorang teman  menyampaikan. Gue cuma bisa ketawa pasrah saat itu denger komentar anak-anak se-gazebo. Sejujurnya gue gak masalah mau ditempatkan di lokasi yang mana, karena jauh deket sama aja buat gue, kalaupun gue dapet lokasi yang deket toh gue juga baliknya ke kosan. Masalah yang gue pikirin cuma satu, siapa aja kelompok gue? Well, ini penting, karena gue bakal ngabisin lebih dari satu bulan sama mereka.

Berbicara soal kelompok, ada 26 orang termasuk gue di dalamnya yang terpilih untuk menjalani KKN di Kecamatan Cengal. 26 orang ini akan dibagi menjadi tiga kelompok untuk masing-masing ditempatkan di tiga desa berbeda yaitu desa Sungai Lumpur, Sungai Jeruju dan Sungai Pasir. Beberapa hari setelahnya barulah akhirnya dikabarkan kalo gue dapet lokasi di desa Sungai Lumpur bareng sama 7 orang lainnya. "Semoga bisa diajak kerja sama", doa gue dalem hati pas dikasih tau siapa-siapa aja yang sekelompok. Persiapan buat KKN ini gak terlalu ribet, paling packing yang gue malesin di setiap mau pergi.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Aku benci..

Perasaan itu hingga kini masih tersisa.
Ingatan akan kita berhasil mendobrak ruang kenangan tak seberapa.
Nyaris tak berjeda diri ini disambangi rindu kepadanya.
Ah, andai dulu rasa itu tak pernah ada.
Nampaknya takkan ada jarak sejauh bintang di antara kita.
Degup jantung saat pertama mungkin sudah terlupa.
Indahnya waktu bersama juga lenyap tergerus arus masa.
Tersisa hanya benci dan air dari kelopak mata.
Olehmu aku merasa kembali diwarnakan hidupnya.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Instagram: @desimegaw

Labels

#30HariMenulisSuratCinta SajakSajakPatah CampusLife Story Of My Life Artikel Catatan Perjalanan CeritaPendek Blog Competition Tentang Rindu

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2018 (1)
    • ▼  December (1)
      • First Birthday Trip Ever
  • ►  2017 (2)
    • ►  December (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (4)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  February (6)
    • ►  January (3)
  • ►  2014 (27)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (10)
    • ►  January (3)
  • ►  2013 (19)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (4)
    • ►  February (5)
  • ►  2012 (24)
    • ►  December (2)
    • ►  November (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)

Follow me on:

  • Soundcloud
  • Twitter
  • Instagram

Created with by BeautyTemplates| Distributed By Gooyaabi Templates