Hey Des!!

Powered by Blogger.

Kepadamu, penerima suratku yang pertama.

Adalah kau yang baru pertama mendapat kiriman surat cinta, kau yang pertama kupikirkan di saat bangun dan lelapku, dan kau yang pertama kuharapkan ada untuk menghabiskan sisa hidup bersama; tuan yang kini jauh di mata namun dekat di hati.

Selamat siang, tuan. Sebelum surat ini berkisah lebih jauh, ku beritahu satu hal padamu; kelak, kau akan terus mendapat kiriman surat cinta dariku setelah hari ini. Hhe, aku yakin bahwa kau tidak akan keberatan dijadikan tokoh utama di surat-suratku nanti.

Sadarkah tuan jika hari ini tepat pekan ke tiga sejak terakhir kali jemari kita saling berpagutan? Rinduku entah sudah berapa banyak, pun kamu. Siang terakhir itu, masing-masing kita sibuk bersembunyi dibalik tawa: meski aku tak lebih pandai darimu dalam hal menyembunyikan duka. Kau berusaha melontar canda saat melihatku yang lebih banyak diam ketimbang biasa. Tahukah Tuan? Tenggorokanku sesak menahan isak yang akan meledak jika terus bicara sambil menatap teduh matamu.

Ah maaf, tak pantas rasanya bersedih di surat cinta pertamamu.

Ingatkah tuan perihal pertemuan pertama kita (lagi) setelah beberapa hari kenal sebagai team di salah satu perjalanan? Saat itu di rumah keduaku (re:sekret), kau bersama dua orang lainnya datang untuk berbagi dokumen perjalanan, dan kita kembali bertemu karena secara tidak sengaja akupun sedang berada di sana. Sejak saat itu, (hingga sekarang), aku terus menantikan pertemuan kedua, ketiga dan ke-banyak kalinya denganmu.

Tuan tidak bisa menjanjikan kapan hari pertemuan itu tiba. Pun aku. Satu hal yang aku tahu, hari itu akan tiba. Ya, hari yang lebih indah dari biasanya, lebih bermakna dan lebih berwarna tentunya.

Salam

Dari aku yang ingin rindu itu terus menggebu meski tahun telah berlalu.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Seseorang pernah begitu enggan berurusan dengan jarak.
Ia tahu betapa menyiksanya rindu ketika raga tak bisa direngkuh. Ketika tidak bisa lagi saling menatap saat berbicara.
Ia tidak ingin kembali menyalahkan jarak atas apa yang tidak pernah dilakukannya. Ia sadar bahwa jaraklah yang membuat ia dapat membaca segalanya. Termasuk apa yang semesta ingin sampaikan.

Bertahun lamanya ia mulai mencoba  kembali berdamai dengan jarak.
Perlahan ia mengerti bahwa jarak tercipta bukan untuk jadi alasan dusta, tapi bisa semakin memperkuat cinta. Jarak ada untuk menyadarkan mereka yang kerap melupa akan arti bersama.
Ia tahu bahwa ada yang lebih besar dari sekadar kata rindu; untai doa.
Ia tahu bahwa prasangka hanya akan membuat segala menjadi petaka.

Seseorang tersebut kini sedang berusaha untuk tidak memusuhi jarak yang kerap kali mengubah rindu menjadi belati hingga mampu melukai dirinya. Saat malam bahkan di tengah keramaian.
Karena jarak ada untuk dilewati bukan untuk dicaci kemudian dibenci.
Karena jarak ada untuk dinikmati bukan untuk dikhianati karena lelah sendiri

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kanvasku kini telah bergambar. Seseorang datang membawa potongan langit dan senja mengburkan hitam di atasnya. Ia begitu tekun melukis semesta di riuhnya kepala ini meskipun aku masih saja berlari. Ya, terus berlari hingga pada akhirnya aku tak ingin berhenti mengitari setiap sudut di dirinya.

Langkahku kini tidak lagi cemas sendirian. Seseorang telah mengiringi dan memberi lengan tempat menyandarkan lelah juga sepi. Jalan menuju puncak masih panjang dan terbentang begitu terjal di luar sana. Saling mengulurkan tangan dan menopang kala pincang, aku harap kita bisa terus saling menguatkan. Menelusuri belantara dan tersesat di dalamnya aku akan  tetap merasa aman bila itu bersamanya.

Mungkin memang jemari ini tidak bisa teru-menerus kau genggam untuk sekarang. Kadang rindu juga akan terasa begitu menyiksa ketika raga berjauhan. Namun percayalah, dekapmu tetap melekat meski jarak kita seringkali tidak dekat. 

Adalah
kamu, sempurna di ketidaksempurnaanku,
kamu ganjil yang menggenapkanku,
kamu pengisi di setiap celah kekosonganku,
kamu bintang di malam dan terik di siangku,
dan karena kamu kini adalah semestaku

Indralaya, Agustus 2015
Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau. Sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia. Teeeet! Dari Sabang sampai Merauke. Yak! satujuta rupiaaaah. Oke. Maap.
Tahukah anda bahwa lagu nasional tersebut dibuat berdasarkan kisah nyata? Yaaaa, walaupun udah pada tau, gapapa deh ya kalo gue lanjutin. Indonesia adalah negara kepulauan yang tersusun dari puluhan ribu pulau yang detailnya bisa lo cari sendiri di google. Sabang dan Merauke itu dianggap bisa mewakili secara keseluruhan karena masing-masing berada di ujung barat dan timur Indonesia. Kalau mau yang lebih lengkap, dari barat samapi tirmur dan selatan sampai utara, mungkin bisa dengerin jingle mie Indonesia itu. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote. Indonesia tanah airku. Indomie selerakuuuuuuu~

Sebagai bangsa yang memiliki banyak pulau, tentu Indonesia juga terdiri dari berbagai suku yang setiap sukunya memilki bahasa daerahnya masing-masing. Itulah mengapa diciptakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Terus kenapa gue bahas itu? Gapapa sih biar keliatan keren aja di alenia pembuka.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sudah seminggu sejak terakhir kita bertemu
berbincang, pada satu pertemuan yang sudah pernah ada kita sebelumnya
akui saja, kamu sadar pada setiap tatap yang bertautan ketika kita saling mencari di kerumunan
pada setiap kesengajaan duduk berdampingan di banyak orang yang bisa saja bersebelahan

Kemudian aku berkaca pada kita di setahun belakang
terlalu naif bagiku untuk mendeskripsikan tentang sebuah perasaan
Barangkali saat itu kita terlalu sibuk
kamu sibuk mengatur jarak, sedang aku sibuk mengacak dekat

Barangkali saat itu kita terlalu sibuk
kamu sibuk mengacuhkan tatap, sedang aku sibuk menepikan rekat
kita sibuk membunuh ingatan, sehingga kita tidak sibuk saling merindukan

Barangkali saat itu kita terlalu sibuk
kamu sibuk bertualang di banyak perempuan, sedang aku sibuk berjalan mencari tenang
kita sibuk saling menghalau, sehingga kita mulai menghilang

Barangkali saat ini kita terlalu sibuk
sibuk yang mungkin sengaja kita buat-buat
kamu sibuk dengan ketidaktahuanmu, sedang aku sibuk berdoa dalam diamku

Kepada kamu yang barangkali sedang sibuk menganalisa 'kamu' di setiap baris tulisanku
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Newer Posts
Older Posts

Instagram: @desimegaw

Labels

#30HariMenulisSuratCinta SajakSajakPatah CampusLife Story Of My Life Artikel Catatan Perjalanan CeritaPendek Blog Competition Tentang Rindu

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2018 (1)
    • ▼  December (1)
      • First Birthday Trip Ever
  • ►  2017 (2)
    • ►  December (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (4)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  February (6)
    • ►  January (3)
  • ►  2014 (27)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (10)
    • ►  January (3)
  • ►  2013 (19)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (4)
    • ►  February (5)
  • ►  2012 (24)
    • ►  December (2)
    • ►  November (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)

Follow me on:

  • Soundcloud
  • Twitter
  • Instagram

Created with by BeautyTemplates| Distributed By Gooyaabi Templates