"Jadi kapan mau baliknya?"
"Gatau.."
"Jangan gatau-gatau, biar bisa dicariin tiket dari sekarang"
"....."
Begitulah pertanyaan yang terus dilontarkan Papa ke saya beberapa hari sebelum akhirnya saya memutuskan kapan balik lagi ke tanah rantau di pulau seberang sana, ya, bumi Sriwijaya. Ke-tidak relaan muncul ketika ada satu hal yang memaksakan saya untuk sesegera bertolak pergi meninggalkan rumah. Liburan yang belum genap satu bulan saya habiskan di rumah terpaksa saya tanggalkan demi kecintaan dan tanggung jawab yang saya rasakan disana.
Konspirasi semesta yang sepertinya juga enggan saya tinggal pergi. Bus yang dijadwalkan berangkat pukul 3 sore telat datang dikarenakan akses jalan Jakarta yang digenangi air sehingga terjadi macet di sebagian besar jalanan Ibukota dan membuat saya harus menunggu selama lebih dari 2 jam. Kesal memulai perjalanan pulang pada hari itu.
Perjalanan yang sudah tidak menyenangkan dari awal semakin tidak menyenangkan untuk saya. Kondisi badan yang memang kurang sehat ditambah jalanan yang rusak berat sukses mengacak kepala dan isi perut saya. Perut yang pada dasarnya memang tidak saya isi makanan semakin menambah mual di sepanjang perjalanan. Tercatat sebanyak tiga kali saya berhasil mengeluarkan air dalam perut tanpa adanya secuil pun makanan. Hal ini menjadi rekor tesendiri bagi saya yang dalam beberapa tahun terakhir biasa melakukan perjalanan bolak-balik Jakarta-Palembang. Bukan suatu hal yang perlu dibanggakan memang.
