Pada setiap rintik hujan yang turun aku berpasrah. Meyakini bahwa masih ada secercah cerah yang terselip di dalamnya. Langitku kini penuh, masih dihiasi awan-awan temaram dan sedikit kabut tak bertuan.
Di setiap langkah yang kadang tak berarah, aku berpasrah. Berusaha memahami jejak langkah yang entah telah dilewati oleh siapa. Aku tersesat, Tuan. Begitu melelahkan untuk bahkan mencari sebuah jawaban.
Meskipun tangan menopang bahu seorang teman, lengan ini tak terpegang untuk kadang bisa bertahan. Bahu selalu bisa diandalkan untuk menenangkan ketidakwarasan yang muncul ketika aku mulai bersandar pada sebuah bentuk kenyataan. Bawakan untukku sebuah, Tuan.