Delapan belas tahun yang lalu aku adalah seorang tunggal, seorang putri satu-satunya sebelum akhirnya kamu dilahirkan. Jujur saja, aku lupa bagaimana rasanya. Mungkin ketika itu aku senang karena mendapat seorang teman atau aku merasa sedih karena merasa cinta yang selama ini aku dapatkan akan terbagi? Entahlah aku tak dapat mengingatnya.
Adikku, Nurlaila, surat ini khusus aku tuliskan untukmu. Jika kamu tanya mengapa, jawabnya karena mungkin kamu yang sekarang sudah lebih paham ketimbang kedua adikku yang lainnya. Sesederhana itu.