Hey Des!!

Powered by Blogger.
Lantunan doa dan ayat mengiringi surat ini kepadamu, semoga bisa sampai tentu saja harapku.

Teruntuk sahabat, kakak, teman, partner terbaik yang pernah saya punya.
Seseorang yang kini jauh di atas sana,
Alm. Dedek Mareta Setyabudi

Hai, sudah baca tulisan yang ku buat untukmu ini? Bagaimana? Apa yang harus diperbaiki dari tulisanku itu? Itu bukan sebuah berita seperti tulisanku yang biasa kau baca, mungkin jika kau telah membacanya akan ada lebih banyak yang harus ku perbaiki.

Well, beberapa hari yang lalu tepat 40 hari sepeninggal kau pergi meninggalkan kami semua. Hari ini (11/3) tepat hari jadimu yang ke 21. Selamat ulang tahun, Dek. -Ah, maaf, jika aku kurang sopan. Aku tidak bermaksud tidak menghargaimu dengan masih memanggilmu seperti itu.
Kau merayakannya disana bukan? dengan penuh kebahagiaan dan tentu tidak dengan sakit yang kau rasakan ketika masih disini. Yaa, aku paham betul jika itu adalah yang terbaik yang Allah beri.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bulan yang katanya penuh cinta sudah lewat hampir seminggu. Ibadah menulis surat selama tiga puluh hari pun sudah usai, meskipun ia tak dapat menyelesaikan akhirnya dengan baik. Jika kau mengharapkan adanya cerita indah ataupun rangkaian kata-kata puitis layaknya sebuah novel cinta pada tulisan ini, ku sarankan untuk segera menutupnya. Ia bukanlah seorang Dewi Lestari dengan semua novel hebatnya, pun bukan Chairil Anwar dengan semua puisi cintanya. Hanya seorang mahasiswa biasa yang sedang berusaha memperbaiki hidupnya.

Ini adalah lembar ke-delapan puluh empat di catatan ke 20 tahun yang sedang dijalaninya. Aku menemukan ia yang masih terduduk di bawah lampu jalan yang kian buram ditelan pekatnya malam. Wajahnya menampakkan sebuah rasa yang tak ingin melepas dan berpisah dengan kesunyian malam. Malam yang enggan ia ganti dengan kacaunya hari. Ia berada pada hari dimana ia tak ingin bertemu pagi, esok, lusa, esok lusa dan esoknya lagi. Tak apa pikirnya jika kiranya semesta kali ini ikut  mengamini.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hai,
Waktu senggang kebetulan sedang datang. Selama sore, sayang.
Aku tau ini terlalu cepat, surat kemarin pun belum sempat kau balas. Tak apa sayang, aku hanya ingin surat itu sampai dalam keadan utuh di tanganmu dengan atau tanpa balas.

Isi dikepala tak sabar ingin segera disuarakan. Ingin sekali bisa kembali bercerita dengan tatap mata penuh cahaya. Sore ini tak seperti biasa. Aku menulis dengan tak lagi ditemani dinding ataupun lantai di kamar. Satu cup yoghurt ukuran single ditambah 2 buah donat dengan topping favorite sungguh membahagiakan di sore yang sejuk ini.

Orang-orang ramai lalu lalang dan tak ada seorang pun yang ku kenal. Sendiri memang, tapi bahagia turut serta menemani kesendirian yang tak seberapa ini. Jadwal penuh hari ini bagiku cukup untuk bisa melupakan rindu. Bagaimana harimu? Jangan lupa untuk selalu berbahagia dan berdoa tentu saja.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ia tidak sedang jatuh cinta.
Hanya berulang menjatuhkan tatap pada satu sosok yang sama.
dalam diam ia coba perhatikan setiap gerakan.
Matanya terus memandang, dan menampikkan setiap pandang jika kebetulan berkenaan. 

Ia tidak sedang jatuh cinta.
Memandang dari kejauhan tetap saja terus dilakukan.
Berkali datang ke tempat yang sama, sedang mata sibuk memperhatikan sekitar.
Berharap satu dari puluhan orang yang datang.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pict taken by me, November 2013

"Ayuk, itu apo?" tanya polos seorang gadis kecil saat melihat kamera DSLR yang ku bawa. 

Sekejap aku menjelma menjadi sosok soktau yang memberi penjelasan singkat soal kamera dan foto pada seorang gadis kecil. Entah bagaimana, tiba-tiba ia datang menghampiri disaat aku sedang asik mengambil gambar beberapa orang teman yang sedang melakukan aksi. Yaa, pagi itu aku memang sedang berperan menjadi fotografer dalam salah satu agenda kegiatan organisasi ke-pangan-an yang aku ikuti di kampus.

Gadis kecil ini terlihat sederhana diantara anak-anak yang berlarian menonton aksi kami. Tubuhnya diselimuti oleh baju dan celana kebesaran, aksesoris kuning melengkapi diri sebagai penghias rambut di kepalanya. Kaki mungil tanpa alas berjalan mengikuti kemana Ibu melangkah. 

Kepalanya mungkin haus rasa keingintahuan akan sebuah benda yang bisa memenjarakan waktu di dalamnya. Hingga akhirnya Ia memberanikan diri untuk mendekat, sedang Ibu dan adiknya sibuk mencari barang-barang di pinggir jalan yang tak dihiraukan kebanyakan orang tapi bernilai jual untuk kemudian ditukar dengan makanan.

"Yuk, aku galak jugo difoto"

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Instagram: @desimegaw

Labels

#30HariMenulisSuratCinta SajakSajakPatah CampusLife Story Of My Life Artikel Catatan Perjalanan CeritaPendek Blog Competition Tentang Rindu

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2018 (1)
    • ▼  December (1)
      • First Birthday Trip Ever
  • ►  2017 (2)
    • ►  December (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (4)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  February (6)
    • ►  January (3)
  • ►  2014 (27)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (10)
    • ►  January (3)
  • ►  2013 (19)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (4)
    • ►  February (5)
  • ►  2012 (24)
    • ►  December (2)
    • ►  November (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)

Follow me on:

  • Soundcloud
  • Twitter
  • Instagram

Created with by BeautyTemplates| Distributed By Gooyaabi Templates