Hey Des!!

Powered by Blogger.
Haloooo,

Setahun kemarin sepertinya jadi salah satu fase termalas saya untuk share ini-itu-anu di segala media sosial. Duileee yang katanya punya cita-cita jadi selebtwit atau travel bloher, tapi konsisnten bikin konten aja alasan males terus. Gimana mau kesampaian kalo postingan selama 365 hari cuma 18 foto di instagram, nol di blog dan gak pernah mengeluarkan ide di twitter. Hhhh. Sekalinya nulis blog juga masih curhat isinya. Sad.

Tapi yaudalah yaa karena ini hari terakhir di tahun 2017 dan blog saya tahun ini kosong ga ada isinya sama sekali, izinkan saya untuk menuliskan ini sebagai catatan untuk dikenang dan bahkan ditertawakan kala hari kemarin hal tersebut pernah begitu saya risaukan.

So, here we goes

Januari; Melawan Takut. 2017 diawali dengan ke-tidak-siap-an diri dan materi untuk persentasi tugas akhir OJT di depan direksi. Jadi setelah kurang lebih sembilan bulan dilalui sejak April 2016, saya dan teman-teman seangkatan di kantor memasuki proses penilaian akhir, yakni sebuah pemaparan tugas akhir di depan BOD perusahan. Di tengah hari-hari gak ada kerjaan karena materi belajar yang sudah habis, dan bayang-bayang menghadapi direksi yang saya aja gak terbayang waktu itu saking parnonya, kami masih bisa berkumpul menertawakan nasib kami dan bahkan saya masih sempat belajar berenang. Yep. Sebuah pencapaian bagi saya yang selama ini di kolam renang cuma berdiri-berdiri di pinggiran dan takut setengah mati setiap kaki udah gak napak saat belajar renang. Tapi hari itu untuk pertama kalinya dalam hidup, saya bisa meluncur dan mulai bisa mengapung melawan rasa takut.

Tukang Maksa  

Februari; The Day. Saya mendapat giliran presentasi hari pertama di sesi terakhir. I know that's not my best, tapi leganya melewati siang itu melebihi saat-saat keluar ruang ujian dengan hantaran "selamat, kamu lulus" dari dosen penguji. But anyway that's just one little phase on my life, sehari setelahnya, saya langsung terbang ke Palembang dengan misi memberi kejutan dalam rangka ulang tahun mas pacar, tentu saja secara geriliya tanpa sepengetahuan mas pacar sendiri. And yhaaa mission completed *terdengar suara terompet*. Ia sampai loncat melihat saya yang tiba-tibaa muncul dari balik pintu kamar seorang teman. Viva la ldr~
Ah ya, di akhir bulan kami menuntaskan wacana santai di pantai sebelum pengumuman kelulusan. Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu menjadi destinasi kami saat itu.




Maret; Hadiah Besar. Saya berkesempatan untuk mengunjungi salah satu destinasi wisata paling digemari di Indonesia, Bali. Mestakung! Alih-alih mengeluarkan biaya akomadasi, saya malah membawa pulang hadiah jutaan rupiah. Perjalanan pertama saya ke Bali bisa dibaca di sini. Terlepas dari euphoria jalan-jalan dan bahagianya saya mendapat grandprize, terselip kesedihan dan kekecewaan yang cukup mendalam. 03 Maret 2017, tepat dua minggu sebelum perjalanan ke Bali, kelulusan kami; MDP diumumkan. Tidak ada dari kami yang menyangka akan hasil dari keputusan tersebut. Tiga dari kami dinyatakan tidak lulus dan tidak dapat melanjutkan kontrak kerja. Hari itu, saya mendapat satu lagi pelajaran menjadi orang dewasa.
 
Sah jadi turis Bali
April; Kembali ke Wonosobo. Perbincangan ringan dengan beberapa teman lama untuk muncak bareng akhirnya terlaksana juga. Bersama dengan dua orang teman dari kantor, kami bergesa menuju terminal sore itu. Meski terlibat drama berangkat yang sempat buat darah agak naik, terjebak semalaman di bus yang banyak kutu, we made it!

 
Since 1999 a.k.a sejak SD

yang ini dari TK
 

Mei; Menengok Mangrove. Selain makan siang bareng, rangers sedang giat giatnya berjalan. Hari itu kami berjalan ke salah satu wisata di pinggir Jakarta, Wisata Hutan Mangrove PIK. Harga tiket masuk sekitar 25k per orang dan akan dikenakan biaya tambahan jika membawa kamera. Beberapa fasilitas di dalam juga







Agustus; Pulang ke Yogya. Kembali ke Yogya bersama masnya dengan itinerary yang saya buat cukup padat. Memulai perjalanan Barat; Kalibiru di Kulonprogo sampai ke Parangkusumo; bermain pasir di Gumuk Pasir, sunset di Prangtritis dan lanjut berjalan menuju pantai di deretan Gunung Kidul. Sunrise di pantai Kukup, disiram ombak di pantai Timang, sampai kepanasan di Wedi Ombo. Sayang, saya kehilangan file foto di awal perjalanan tersebut karena ke-sotoy-an untuk trasfer file dari HP ke flashdisk pakai PC sebuah rental komputer yang kami temui di salah satu desa saat perjalanan menuju ke goa pindul. Ya gitulah, saat sadar filenya hilang tidak berbekas, nyess hati sakit banget kaya ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya. Gak mood sejadi-jadinya, udah nangis tapi masih sakit rasanya, hiks. Jadilah file yang tersisa hanya seputar perjalanan dari Goa Pindul sampai pulang. Huhu

Hanya foto berbayar yang tersisa dari Kalibiru, file lain yang diambil dengan kamere sendiri sudah hilang

Goa Pindul

Belom sadar file pada hilang


#MainKeMuseum Gunung Merapi

Another #MainKeMuseum ke Ulen Sentalu 


Ngapaeeen nyampe ke Solo segala

Pertama naik pesawat

sampai Jakarta
September, 

Oktober

November,

Desember,

lupa ada apa, haha will be update soon kalau sudah ingat. Much love xoxo
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
HEYHOO!

Apa kabarnya? Baik dong yaa.

Walaupun dibuka dengan agak awkward tapi mohon izinkan saya untuk kembali menorehkan cerita setelah sekian lama malas vakum meninggalkan diary digital ini, wahai teman-teman yang tidak sengaja mampir dan akhirnya terjebak dengan curhatan saya di sini. 

Dari sekian banyak kisah yang mau diceritain tapi hanya berakhir jadi draft di kepala, akhirnya kali ini tertuang juga dalam sebuah postingan.

Maret 2017 lalu, perusahaan tempat saya bekerja mengadakan semacam outing ke salah satu destinasi pariwisata nomor satu yang ada di Indonesia, Bali. Yaaaiyy. Ini merupakan kegiatan yang rutin dibuat perusahaan dalam beberapa tahun terakhir untuk memanjakan para pekerjanya. Diikuti oleh seluruh pekerja dari berbagai cabang yang tersebar di Indonesia, ini menjadi office tour pertama bagi saya. Dan tahukah bahwa perjalanan ini merupakan kali pertama saya ke pulaunya para dewa ini?

AKHIRNYA W KE BALI JUGA YHEAAAA!!

Haha! Iya. Setelah belasan tahun menginginkan sebuah perjalanan mengunjungi pulau seribu Pura ini, baru tahun ini saya diberikan kesempatan untuk menginjakan kaki di sana. Everything is gonna be awesome for the first time in your life, right? Demikian juga dengan perjalanan saya kali itu.

Acara berlangsung selama tiga hari dengan jadwal dan kelompok yang sudah disusun dan dibagi sedemikian rupa. Kami dibagi menjadi dua tim besar dan beberapa kelompok kelompok kecil dari hampir 700 orang yang mengikuti kegiatan tersebut.

Tidak banyak tempat yang dapat saya kunjungi saat itu karena itinerary sudah diatur oleh pihak panitia. Destinasi yang didatangi pun tidak jauh dari restoran dan tempat membeli buah tangan. Namun ada satu tempat yang cukup menarik perhatian saya, Pura Tirta Empul.

Sebagaimana pura yang ada di Bali, pura ini merupakan salah satu tempat suci yang digunakan untuk sembahyang dan berdoa bagi masyarakat Hindu di Bali. Dari hasil saya googling, tirta empul berarti air yang menyembur keluar dari tanah dan seiring berjalannya waktu menjadi sumber mata air. Masyarakat dan wisatawan dapat menggunakan air tersebut baik untuk berdoa atau sekadar membasuh diri. Warga sekitar percaya bahwa air suci tersebut dapat memberikan keberkahan. Sesaat sebelum meninggalkan Pura, saya sempat mengusapkan air yang mengalir dari sebuah bongkahan batu di pinggir kolam. Saya membasuh tangan dan wajah saya sembari berdoa dalam hati, kemudian saya tadahkan air tersebut di kedua tangan saya dan meminumnya. Rasanya tidak kalah segar dengan air pegunungan.

Keterbatasan saya untuk mengexplore Bali saat itu, saya yakini sebagai sebuah doa untuk bisa kembali lagi ke sana suatu hari nanti.

Daaaaan, sampailah kita pada puncak acara FPK ini. APA APAAN TIBA-TIBA UDAH PUNCAK ACARA AJAAA! Ya soalnya sisanya cuma jalan-makan-jalan-makan biasa aja gitu. Ahiya, sebelumnya mari kujelaskan. Outing yang sebenernya gak outing-outing banget ini, disebut sebagai Forum Peningkatan Kinerja atau FPK di perusahaan kami.

Mengusung tema The Year of Inovation blablabla lupa lengkapnya dan bertempat di Gong Raksasa, di Desa Kertalangu, disampaikan target-target tahun 2017 yang ingin dicapai oleh perusahaan. Dihrapkan dengan adanya kegiatan ini, seluruh pekerja akan lebih giat guna mencapai target tersebut. Malam itu, seusai makan dan menyaksikan berbagai acara hiburan, diadakan kuis-kuis berhadiah. Hadiah yang ditawarkan tidak tanggung-tanggung. Mulai dari uang tunai, voucher belanja, action camera, handphone berbagai tipe dan emas murni.

Malam itu adalah sebuah keajaiban. Dari 700 sekian orang yang ada di sana, dengan round table memanjang ke belakang dan saya yang duduk di meja nomor lima puluh sekian, tepatnya berada di baris ketiga dari belakang, saat ketidakmungkinan lebih besar peluangnya dibanding segala kemungkinan yang ada, beruntung mendapatkan hadiah yang digadang-gadang sebagai grand prize. Sebuah HP SAMSUNG GALAXY S7 EDGE sukses membawa saya terkenal malam itu. 

"Mba tenang mba, jangan pingsan di sini" ujar pembawa acara saat melihat saya yang tidak berhenti teriak bersemangat saat baris di depan untuk menerima hadiah. Air mata bahagia tidak dapat saya bendung ketika teman-teman sengakatan menyambut dan menghampiri saya di belakang. 

Bali adalah tentang cita-cita, tentang sebuah penantian seorang anak yang tidak pernah sekalipun terpikir akan bisa sampai di sana tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun. Bahkan sampai membawa pulang "mainan baru" yang mahal disaat belanja oleh-oleh pun ia tidak mampu.
Semesta memang kadang sebercanda itu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
21 Mei 2015 
Hari ke-1

Dering handphone pagi itu membuyarkan segala kenyenyakan di alam bawah sadar saya. Suara di ujung sana terdengar begitu gelisah ketika mengetahui saya yang ternyata baru bangun dari tidur. Feeling terlalu excited pada sebuah kegiatan, kadang membuat saya jadi susah tidur di malam harinya, dan karena kebiasaan packing di satu hari sebelum keberangkatan, jadilah mata ini hanya terpejam beberapa jam sebelum paginya (dipaksa) terbuka. Bersama dua orang teman yang entah sudah berapa lama menunggu, saya berangkat dari Indralaya menuju stasiun Kertapati menemui yang lainnya.
Layaknya hari-hari biasanya, stasiun pagi itu masih sibuk menjadi bisu pertemuan dan perpisahan banyak orang. Termasuk saya yang pagi itu dipertemukan dengan rombongan yang sebagain besar berisi teman yang memang sudah akrab dan dua orang baru yang belum saya kenal sebelumnya.

Devi, salah satu anggota kami yang awalnya tidak ikut tiba-tiba mengabarkan bahwa ia jadi ikut dan sedang dalam perjalanan menuju ke stasiun. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 07.40 dan Devi masih di jalan yang cukup jauh dari lokasi, sementara kereta berangkat pukul 08.30. Beberapa dari kami termasuk saya masuk ke peron terlebih dahulu untuk menyusun barang dan mencari gerbong tempat kami duduk. Canda yang terlontar saat dalam gerbong dihiasi oleh cemas di masing-masing kami karena menunggu yang lainnya. Reka adegan Ian 'Saykoji' di film 5cm yang berlarian di peron mengejar kereta mulai terbayang di kepala, beberapa petugas berseragam putih yang berlalu lalang juga semakin menambah gelisah, takut kalau kami akan terpisah. Mestakung! Dari kaca jendela saya melihat Abdan yang disusul Dimas, Devi dan Rizki berlari masuk ke gerbong. Surprising, ada Bayu di sana. Tidak sampai 10 menit dari mereka duduk, suara pluit terdengar nyaring tanda kereta akan segera melaju.
Di kereta dari Kertapati menuju Baturaja

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Jika hawa tercipta di dunia untuk menemani sang adam, bagaimana dengan rindu? Bukan, bukan kamu yang bernama Rindu yang ku maksudkan. Ini perihal rasa yang kita tau sebagai rindu.

Seringnya, ia muncul selepas temu. Merupakan campuran antara kenangan dan gelisah dengan banyak cinta. Entahlah mengenai takarannya yang sudah pasti berbeda.

Ia bisa datang kapan, di mana dan kepada siapa saja semaunya. Dapat ditemukan sedang bersembunyi dibalik bantal basah bekas air mata yang tidak pernah bersuara. Kadang menyelinap ke dalam lelap dan ikut bermain di mimpi kita. Kadang juga ikut jatuh bersama rintik hujan yang tidak melulu di Bulan Juni.

Tapi tahukah bahwa ada yang lebih lantang dari teriakan 'aku kangen' di setiap gumammu? Ya. Doa selepas sujud yang lirih terdengar di setiap harinya ialah sekeras-kerasnya suara rindu.

Kepada kamu dan siapapun yang sedang meniti rindu; selamat bersenang dengan waktu.

Jakarta, Februari lembar kedua' 2016

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar

Teruntuk Bekasam-Man, @a_febriyansyah

Hai.
Feeling awkward kah saat menerima surat dariku? Aku pun. Haha. Setelah berjam-jam diri ini terpaku menatap layar kosong, tiba-tiba pikiran ini bermuara pada sosokmu. Seorang calon engineer yang ku kenal sejak awal semester di perkuliahan.

Karena sudah terlanjur muncul di kepala dan kupikir kau juga tidak pernah menerima surat kecuali surat organisasi, akhirnya ku putuskan untuk menyuratimu; seorang sahabat yang ku tahu memiliki kesukaan yang sama. Meski sebenarnya aku bisa langsung menghubungimu lewat mention di twitter atau chat di salah satu aplikasi messenger untuk sekadar bertanya kabar (skripsimu), aku lebih memilih ber-basa-basi lewat momen tulis menulis surat ini. Selain karena tidak ada batas karakter, ya karena aku sweet.

Jadi, bagaimana kabar? Masih punya impian pindah KTP jadi warganya Kang Emil buat ketemu mojang Bandungnya? Atau udah berubah haluan cari dedek-dedek di kampus aja? Terus-terus, skripsi gimana? Masih suka ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, ndak, (skripsinya)? Aku nungguin kabar baiknya segera loh, btw.

Hm, bentar deh, ini aku mau ngomongin apa si? Kok ke mana-mana. Padahal jodoh aja gak ke mana. *kemudian hening*. Ngomong-ngomong soal 'ke mana', perjalanan ke mana kita masih belum ada yang terlaksana yaa. Tapi tak apalah,  simpan saja dulu cerita perjalanan masing-masing kita untuk traktiran bicara saat bertatap muka. Meski nyatanya aku tidak tahu kapan kesempatan itu ada.

Di luar hujan sedang deras-derasnya, suaraku samar tidak lagi terdengar jelas. Begitupun dengan susunan kata yang aku tuliskan. Apasih. Maaf aku deg-degan nulisnya. Initinya sih; aku bingung mau nulis apa lagi, jadi ku sudahi sampai sini saja suratnya. Yaaaa walaupun bukan sebuah penutup surat yang bagus, bahkan isinya pun ga bagus. Tapi ini bukan sekedar tulisan basa-basi kok. Cause you know, if sagitarius tanya kabar, she's really want to know you'r in good. Kok jadi ke zodiak. Hem, oke. Ini udah semakin ngaco.

See you when I see you, Peb! Semoga disegerakan segala cita dan cintanya.

Jakarta, Februari 2016

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Instagram: @desimegaw

Labels

#30HariMenulisSuratCinta SajakSajakPatah CampusLife Story Of My Life Artikel Catatan Perjalanan CeritaPendek Blog Competition Tentang Rindu

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2018 (1)
    • ▼  December (1)
      • First Birthday Trip Ever
  • ►  2017 (2)
    • ►  December (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (4)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2015 (12)
    • ►  December (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  February (6)
    • ►  January (3)
  • ►  2014 (27)
    • ►  December (3)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (10)
    • ►  January (3)
  • ►  2013 (19)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  July (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (4)
    • ►  February (5)
  • ►  2012 (24)
    • ►  December (2)
    • ►  November (4)
    • ►  October (3)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  June (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (4)
    • ►  March (1)
    • ►  February (2)

Follow me on:

  • Soundcloud
  • Twitter
  • Instagram

Created with by BeautyTemplates| Distributed By Gooyaabi Templates